26 Maret 2012

cuman pendapat aja kok.

sekrang hari selasa, saya niatnya mau ke kampus buat ngasih draft proposal skripsi habis itu nonton The Raid. tapi engga jadi. karena saya baca hari ini banyak pendemo di Gedung Sate dan pastinya bikin macet dalam jalan saya menuju kampus.
Mereka demo untuk apa? Mereka minta supaya pemerintah tidak jadi menaikan harga BBM (Bensin Premium). 
Bagus atau baik kah? Saya tidak tahu, karena saya tidak tahu kenapa mereka sampai harus berdemo seperti itu, karena demo atau tidak, harga akan tetap naik. Masyarakat terbagi menjadi 2, ada yang menolak ada yang setuju. Yang setuju datang dari kaum ekonomi menengah ke atas, mereka yang tidak terlalu terbebani dengan kenaikan BBM ini, toh setiap hari juga mungkin mereka sudah pakai Pertamax/Pertamax Plus. Jadi naik engga naik, ya engga ngaruh. 
Yang menolak datang dari golongan ekonomi lemah, mereka yang hidupnya pas-pasan dengan kemampuan seadanya. Buat bayar kontrakan saja sudah susah, sekarang biaya untuk makan sudah semakin sulit bagi mereka. Tapi itu semua baru kemungkinan saja, toh yang pasti apa yang mereka lakukan  belum tentu ada pengaruh yang signifikan sama sekali.  
Sebenarnya kalau saya sendiri dibilang setuju atau tidak, saya juga tidak tahu. Karena kenaikan harga BBM-nya masih dalam tahap afforable buat saya, tapi pengaruh ke harga-harga yang lain pasti akan tinggi sekali termauk ke sembako karena transportasi sembako pasti pakai Premium atau Solar. Jadi, harga yang lain akan semakin naik tanpa ada kendali sama sekali. Ini yang saya engga suka dari inflasi di Indonesia. Penentuan Pricing suka seenak jidatnya apalagi angkot.
Cuman kok ya, saya ngerasa aneh juga sama pemerintah ya. Begini, alasan menaikan BBM karena memberatkan APBN yang katanya dana dari APBN tersebut akan digunakan untuk melakukan pembangunan di Indonesia. Sumber dana APBN terbesar adalah pajak dari masyarakat. Jadi, masyarakat bayar pajak, kemudian dananya dipakai untuk mendanai APBN. Subsidi BBM dari APBN dianggap menjadi sebuah pengeluaran yang tidak perlu/memberatkan karena jumlahnya terus membengkak. Tapi bila tidak ada subsidi pasti harga akan naik mau tidak mau karena biaya untuk beban operasional dan transportasi akan meniangkat karena komponen utamanya harus naik.
Jadi, sekarang ini yang saya lihat masyarakat menjadi pembayar tunggal untuk semua hal. Pajak dibayar sendiri,  sekolah dibayar sendiri, biaya kesehatan dibayar sendiri, makan dibayar sendiri, bensin buat sekolah dan kerja dibayar sendiri. Bentuk subsidi yang dihilangkan, hilang entah kemana. Pelayanan publik, bayar lagi juga. 
Bila memang subsidi dihilangkan untuk BBM, ya mungkin seharusnya bisa ditambahin di bidang lain. Untuk sekolah sendiri, biaya sekolah masih tetap harus ada yang dibayar, andai tidak bayar, bangunannya rubuh. Jalanan masih rusak, keamanan tidak terjamin, transportasi massal mahal. Di bidang kesehatan lebih parah, sampai ada jargon : orang miskin engga boleh sakit. 
Ya, itu kan terjadi karena subsidinya dipake buat BBM?!
Ok, sekarang subsidinya dicabut, apakah hal 'indah' tersebut akan terwujud? engga ada yang ngejamin. engga ada yang bisa bilang, "Ok, BBM dicabut, mulai besok sekolah sampai SMA semua ditanggung negara!" kan engga ada. Ok, sekarang udah ada BOS, tapi sampai tingkat SMP dan hanya sekolah negeri saja. Terus yang sekolah di swasta gimana? Udah mereka lulus SMP tapi ga bisa ngelanjut ke SMA/SMK gimana? Cuman lulus SMP beneran ga punya nilai bargain sekarang ini. 
Kesalahan pertama yang saya lihat adalah enggak adanya transportasi massal yag murah dan bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. Saat ini kita cumna bisa ngadelin angkot sama bis. Bis engga terlalu mobile walau bisa muat orang banyak, sementara angkot lebih mobile, tapi ya itu tadi, pricingnya gelo! Belum ngetem, belum engga aman, pokoknya engga nyaman dan mahal. 
Karena itu lah masyarakat yang emang sebenarnya mampu beli motor, ya akhirnya beli motor yang mana sekarang harganya cukup murah. Yang mampu beli mobil ya beli mobil. Coba sekarang kita lihat, satu rumah bisa ada 3 motor, itu untuk rumah yang diem di gang. Temen saya ada yg punya mobil sampai 4, dan itu dipake semua setiap hari. Gimana konsumsi BBM enggak naik coba? Belum lagi itu nimbulin masalah kemacetan yang amat sangat. Volume kendaraan nambah, tapi kapasitas jalan tetep.
Itu juga menunjukkan pemerintah pusat dan daerah sama sekali tidak punya visi tetap tentang bagaimana masyarakat ini harus dikelola. Bagaimana harus dinaikan derajatnya, bagaimana harus diolah demi kebaikan negara ini. Masalah yang sangat esensial : Pemerintah tidak punya visi! 
Mereka lupa sebenarnya mereka ada untuk apa dan untuk siapa. Negara ini buat saya sekarang kek bom waktu/mimpi buruk saja di masa depan. kalau boleh saya mau pergi dari sini saja. tapi itu hanya membuat saya menjadi pengecut saja sepertinya. Walau kecil, semangat untuk perbaikan pasti ada di semua orang  Indonesia dan itu ga boleh padam. 














   

Tidak ada komentar: