Tampilkan postingan dengan label Blabbering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blabbering. Tampilkan semua postingan

16 Agustus 2011

Kek nya ada yang kurang

Pagi ini, timeline saya dipenuhi euforia " twit nasionalis" yang bicara tentang kemerdekaan negara ini. Ya, bagus sih, setidaknya masih ada yang inget kalau 17 Agustus itu Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ya, banyak yang engga inget juga karena suasana Hari Kemerdekaan ini ternyata bertepatan dengan malam nuzulul qur'an bulan Ramadhan, jadi sebagian mungkin lebih inget buat ibadah daripada mengingat harus ikut upacara misalnya.
Tapi saya ngerasa ada yang kurang aja dari euforia ini. Semua twit yang saya baca, gitu-gtu aja, ngomongin hal yang biasa aja. Tidak nambah insight apapun, mungkin yang ngetwitnya terlalu sibuk jadi tidak sempat baca dan menambah pengetahuannya. Bukannya apa-apa lho, saya kadang ngerasa risih juga baca twit macam gitu hanya dari persepsi pribadi saja. I mean, kita udah mahasiswa, bentar lagi sarjana, ada yang sudah sarjana malah, kalau mau ngomongin yang serius macam gini ada baiknya didasarkan kepada data, fakta atau literatur sehingga apa yang di share tidak hanya mengumbar jargon. 
Karena kalau hanya cuap-cuap mengumbar jargon macam "Indonesia bisa lebih baik-Mengenang perjuangan bangsa!- Semangat Kemerdekaan!" dan sebagainya, itu sama aja kek spanduk di jalan-jalan yang ditulisi dengan "Jauhi narkoba, jadi lah pemuda Indonesia yang kreatif!" oleh pemerintah, tapi pengedar narkoba dibiarkan berkeliaran oleh pemerintah, dan fasilitas untuk mengembangkan kreativitas ditiadakan pula oleh pemerintah. Trus gimana bisa tercapai tujuan mulia tadi agar setiap pemuda bisa menjadi kreatif dan tidak terjerat narkoba? 
Bangsa ini memang bangsa spanduk kalau kata salah satu dosen saya. Semua masalah cukup dibuat spanduknya, dan semua masalah itu seolah-olah akan beres dengan spanduk-spanduk itu ada.
Enam puluh enam tahun yang lalu, visi negara ini adalah untuk menjadi sebuah negara yang bebas dan merdeka dari segala bentuk penjajahan yang terjadi waktu itu, yang jadi masalah utama sekarang adalah para pendiri bangsa ini tidak membuat visi setelah kita merdeka. Karena itulah negara ini menjadi negara luntang-lantung, negara yang tidak jelas mau jadi apa. Disebut negara agraris, beras saja impor yang banyak tumbuh malah rumah-rumah beton dan banyak petaninya hidup susah. Disebut negara industri, menghasilkan  produk apa negara ini yang bisa dibanggakan? Koruptor? Lumpur Lapindo? 
Pemegang pemerintahan juga masih lebih banyak bersikap feodal. Lebih sering minta dilayani oleh masyarakat daripada menjadi pelayan bagi masyarakatnya. Kebijakan yang dibuat lebih ditujukan untuk kepentingan golongan dan hanya untuk mengatasi masalah jangka pendek saja. Kalau ada masalah lagi, ya bikin aturan lagi, terus saja begitu jadi tumpang tindih antara satu aturan dengan aturan lainnya. Kita kehilangan visi sehingga kita tidak mempunyai arah yang jelas negara ini mau dibawa kemana. Sedang ribut kiri, semua orang ke kiri. Diarahkan ke kanan, semua orang ke kanan. Macam bebek.
Ini yang agak kurang di negara ini, satu orang ngomong tentang nasionalisme, yang lain ikut berkicau hal yang sama, tanpa tahu maksud dan tujuannya apa. Hasilnya hanya tren belaka dan besok apa yang sudah diucap pasti terlupa. Ini bahaya! Karena bila tingkah laku seseorang sudah tidak sesuai dengan ucapannya, itu sudah mendekati tanda-tanda orang munafik. Hah, sudahlah, it's always easier said than done. 
Well, Happy Independence Day! God bless Indonesia! Amin.  

04 Agustus 2011

Untitled 1

Bersemangat dan tersenyum lah, jiwa yang lelah
Esok akan lebih berat dari apa yag kau tahu
Terik yang membakar kulit
Dingin yang menusuk tulang
Kesendirian dan perpisahan dengan orang yang kau cintai
Semua itu masih disana
Menunggu mu di hari esok nanti

Berjalan lah dengan tegak
Jangan matikan semangat itu
Jangan matikan bara itu
Biar lah padam bila waktunya
Saat Tuhan menyapa mu kembali
Tersenyumlah, walau terasa berat.

30 Juli 2011

Ini cerita magangku, apa cerita magang mu?

Magang, apa itu magang? Saya juga ga tau sebenernya, mungki definisinya ada di buku pedoman magang bersampul hijau itu, tapi saya lagi malas buat bacanya. Magang itu pura-pura kerja, padahal saya tak tahu apa yang saya kerjakan. “Riyan, kerjakan ini, terus itu, lalu habis itu begini..” Ya, saya kerjakan, betul atau salah saya tidak tahu.  
Magang, kenapa harus minimal 30 hari kerja? Mungkin kalau seumur hidup nanti kita juga yang susah. Magang, kenapa harus buat laporan? Harusnya kampus langsung tanya saja ke tempat kami magang. Sudah lah kami yang mencari tempat, kami yang magang, kami juga yang bikin laporan, kampus mau bantu apa?
Magang, banyak cerita, banyak pengalaman, banyak hal aneh dalam dunia profesionalisme. Saya sadari bahwa saya belum pernah merasakan bagaimana ‘bekerja’ dalam lingkungan kantor atau organisasi selain sekolah, kampus dan rumah. It’s totally different.

BOSAAAAAAAAAAAAN!
Magang itu bosan. Saya ditugasi menyusun data pegawai sebanyak 2 rak. Dan percayalah 2 rak Bantex itu banyak! Saat pertama saya mulai, 1 Bantex saya susun selama 1 jam, kemudian 1 Bantex jadi 45 menit hingga yang paling cepat 30 menit. Saya melakukan hal yang sama selama 2 minggu dan sangat-sangat-sangat membosankan. Duduk sendirian, disudut, bersama 200 Bantex, make you wanna die.
   
Lingkungan Usia
Kalau sekolah yah, mungkin teman satu kelas kita bisa beda 1-2 tahun, tapi kalau kerja? Bisa 1-30 tahun! You can meet someone old as your mom/dad. Disinilah basa basi diperlukan. Kurang senyum atau sopan dikit, bisa dicuekin seharian. Sama sekantor.

Tak semua orang benar-benar bekerja
Selain itu, saya juga baru tahu bahwa di kantor, tak semua orang benar-benar bekerja. Ada yang sibuk hilir mudik, tapi kerjaan di mejanya terbengkalai. Ada yang hanya mondar-mandir, sapa kiri-kanan, hilang, 2 jam balik lagi melakukan hal yang sama. Ada yang bahkan benar-benar hilang dari mejanya dan tak ada yang tahu kemana.
“Maaf, mas saya nyari bapak X.”
“Waduh, saya enggak tahu. Bu, bapak X kemana?”
“Waduh, saya juga engga tahu, kalau mau tunggu aja sampe…… lebaran taun depan.”
Kok bisa gitu yah? Saya juga engga ngerti. Kepentingan pribadi kadang juga menyita banyak waktu di kantor. Sebenarnya sih boleh, curi-curi waktu sedikit kalau mau keluar kantor asal pekerjaannya beres dan jelas keluar kantor tujuannya mau apa.

Wanita itu sensitif dan membuat mereka marah adalah kesalahan
Women is taking control at the office. Mereka yang tahu semua gosip, mereka yang tahu semua berita di kantor. Kita harus berhati-hati sama wanitah di kantor. Pokoknya jangan sampai mereka merasa sakit hati dan diasingkan. Kenapa? Karena image kita di kantor yang dipertaruhkan! Kalau mereka sakit hati, besok kita ngobrol sama tembok.
“Pagi, Teh. Gimana semua baik-baik saja?”
“………hmmmm.”

R.E.D (Retirement Extremly Dangerous)
Saya magang di bagian administrasi SDM dan kebetulan sekarang ada di bagian kesejahteraan pegawai yang mengurus administrasi pada pensiunan juga. Para pensiunan ternyata bisa sangat menyeramkan dan melelahkan. Mereka umumnya sudah tua, agak pikun dan pendengarannya terganggu. Ada juga yang maish segar bugar sih, tapi tidak begitu banyak. Setiap bulan mereka atau perwakilan dari keluarganya datang ke kantor untuk mengambil uang pensiun mereka yang mungkin sebenarnya tidak seberapa dibanding gaji mereka dulu, tapi toh lumayan lah buat mereka jajan sambil sekalian bertemu dengan kolega sewaktu masih bekerja.
Tapi, dengan banyaknya kebijakan perusahaan yang berubah klita berkewajiban untuk menjelaskannya kepada mereka. Nah, menjelaskan kebijakan-kebijakan ini bisa jadi sangat melelahkan.
“Jadi, bapak, nanti pembayaran tidak melalui kas, tapi harus langsung ke rekening bank.”
“Hah? Bapak engga dapet pensiun lagi?”
“Bukan, pak. Tapi nanti di transfer langsung ke rekening bank, Bapak.”
“Hah? Ke bank? Bank mana? Jangan jauh-jauh, bapak udah tua..”
“Nanti ada petugas banknya,”
“Hah? Kenapa pesiunan disiksa begini?”
“Engga tau, pak.”
“Harusnya gaji kami dinaikan!! Ini perusahaan maunya apa? Masa pensiunan jadi begini?!!”
“…………….”
“Tadi, ngomongin apa, dek? Bapak lupa…”
“Gkgkgkgkkgk….”

Jaga Kesehatan, anak muda!
Nah, dibagian saya juga ternyata ngurus tentang jaminan kesehatan bagi pegawai dan keluarganya. Di sini saya melihat ternyata banyak pegawai yang sakit atau meninggal dunia sehingga harus pensiun dini. Dan saya katakan bahwa jumlahnya tidak sedikit. Saya melihat data mereka dan ternyata banyak dari anak pegawai tersebut masih berada dalam usia sekolah/kuliah. Lalu saya berpikir bahwa hal itu bisa terjadi pada saya, atau lebih buruk, anak saya nanti. Bagaimana bila itu terjadi pada saya dan ternyata bekal pendidikan buat mereka masih belum cukup dan kami butuh biaya lagi, tapi saya tidak bisa bekerja dan harus pensiun dini?  Mencegah lebih baik daripada mengobati, jadi mungkin saya harus mulai menjaga kesehatan dari sekarang. Hah, tadi naruh rokok dimana ya?

19 Juni 2011

Belajar dari MUTU!

Apa itu mutu? Dari definisi yang saya pelajari ada beberapa definisinya yaitu :
  • kondisi yang dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/ tenaga kerja, proses, dan tugas serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan konsumen (Garvin Davis -1994) 
  • Kesesuaian dengan tujuan atau manfaatnya untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan (J.M.Juran - 1993)
  • Keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar” (Perbendaharaan istilah ISO 8402 dan dari Standar Nasional Indonesia : SNI 19-8402-1991
  • Kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery, reliability, maintainability dan cost effectiveness (Crosby- 1979)
Banyak definisinya? Ya, memang karena pada dasarnya belum ada definisi yang jelas tentang mutu itu sendiri. Terus bagaimana caranya kita tahu suatu barang itu bermutu atau tidak? Agar suatu barang bisa dianggap bermutu, biasanya pabrik atau produsen melakukan standarisasi atau barang dibuat dengan standar tertentu yang sudah ditentukan oleh pabrik atau oleh institusi/lembaga yang mempunyai kewenangan. Jadi, semua barang yang dipasarkan nantinya akan sesuai standar. Barang yang satu akan sama dengan yang lain.
Bagaimana memastikan bahwa semua barang itu sudah standar? Ada berbagai cara diolakukan salah satunya denga melakukan Statistical Process Control. Dengan metode ini barang yang sudah dibuat aan dilakukan pengambilan secara sampling, dengan sampling tersebut akan dicari apakah barang yang ada sudah sesuai dengan batasan mutu/kualitas yang dinginkan oleh pabrik. Ya, kira-kira begitu lah, saya kurang mengerti dengan persis detailnya. 
Bagaimana kalau sudah dilakukan pengecekan, dan berbagai hal ribet lainnya, barang yang ada masih kurang bagus mutunya? Lakukan perbaikan. Continous improvement. Kaizen. Perbaikan terus menerus tanpa akhir, karena pada dasarnya tingkatan mutu suatu barang/produk akan terus berubah dan tidak akan pernah berhenti.
Ini sebenernya pengen ngomongin apa sih? 
Nah kalau mutu pada manusia sendiri kek gimana?  Pada dasarnya sifat manusia yang naik turun membuat mereka bisa menjadi sangat berkualitas dan sangat tidak brkualitas.  Hari ini bisa menjadi manusia yang sangat menyenangkan, besoknya kek Setan. Manusia itu sangat paradoks sehingga kalau buat saya memang agak sulit menilai seseorang itu bermutu atau tidak. Karena niali mutu seorang manusia itu tidak pasti, biasanya kita menggunakan generalisasi untuk menilai mutu orang. Stereotyping. Kita hanya menilai dari apa yang bisa kita lihat aja bahwa orang itu bermutu atau tidak. Padahal yang kita lihat belum tentu keadaan atau mutu dari orang itu yang sebenarnya. Inilah kenapa kita sering dengan istilah "--salah menilai dirimu" dalam lagu-lagu sendu. 
Kita sebenarnya hanya melihat sedikit, tapi merasa sudah tahu banyak. Dalam salah satu lagu Make Damn Sure -- Taking Back Sunday ada bagian lirik : "how close is close enough?"
Seberapa dekat kah untuk disebut dekat? Seberapa kenal untuk benar-benar bisa disebut sangat mengenal? Everything is change, people too. Engga ada yang tetap, termasuk sifat manusia tadi, begitu juga kualitasnya. I mean, just take a look at ourself. We are getting older everyday, but did we ever really realize about that? 
So, what should we do? sama seperti konsep continous improvement tadi, ada satu hadist yang bilang "Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi. Dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin adalah orang celaka" (Hadits). Itu adalah konsep continous improvement pada diri kita sebagai manusia. Kaizen untuk diri kita. Dan hal ini harus kita lakukan terus menerus, agar kualitas kita semakin baik dan lebih baik daripada kemarin.
The sign when we need to improve our quality? Sebenarnya sih, ya seperti yang saya bilang tadi, kalau sebaiknya sih setiap hari kita tingkatkan kualitas kita. Tapi ya, terkadang manusia selalu menunggu impact yang besar untuk bisa merenung dan menyadari bahwa kualitas yang dia miliki masih kurang untuk menghadapi kehidpan nanti yang pasti akan lebih sulit. Jadi, untuk tahu kapan kita harus meningkatkan kualitas kita adalah saat kita kecewa. Ya benar, saat kita kecewa dengan apa yang kita dapat, saat kita kecewa dengan orang-orang disekitar kita, saat kita patah hati (which is what happening to me now), saat kita menginginkan sesuatu tapi tak bisa kita dapatkan, saat semuanya berjalan salah dan tak sesuai dengan harapan kita. Saat-saat itu adalah tandanya kita harus segera mmeningkatkan kualitas diri kita untuk memantaskan atas apa yang kita inginkan (pinjam istilah Mario Teguh).
Ya, kira-kira segitu dulu yg bisa saya share. I'll improve it later. Hahahaha!   



10 Juni 2011

oh, what can i say? i'm so stupid.
i feel relieved but at the same time i feel like loosing something.
i knew it before i start it. it is the fuc*kin risk i must take.

04 Juni 2011

God do not sleep.

Melihat sejenak ke masa 4 bulan yang telah lewat. Awal semester 6, benar-benar semester yang kacau bagi saya. Dan, Oh, secara kebetulan saya harus mendapat ilmu dari salah satu dosen yang paling saya segani dan takuti.  Dan secara kebetulan juga minggu pertama sudah mendapat tugas menuju kampus Dayeuh Kolot men cari skripsi dan oh, ternyata sangat melelahkan.
Beberapa minggu kemudian, tugas semakin menumpuk dan saya berada dalam kadar sudah merasa lelah secara fisik dan psikis. Semakin diperparah karena pada saat hari saya harus bertemu untuk mengumpulkan tugas, saya sakit dan beliau tak datang karena sakit, sehingga jadwal diundur sampai beberpa hari berikutnya.
Saya pergi lagi untuk mengumpulkan tugas beberapa hari berikutya sambil mencak-mencak dalam hati sambil mengendarai motor saya diatas flyover Surapati. "Bagaimana kalau dia tak datang lagi? kalau dia sakit lagi? saya juga sakit?! tapi saya datang, saya bisa, kenapa dia tidak? Saya juga lelah, secara fisik dan mental. Saya malas jadinya kalau begini. Apalagi kalau dia marah-marah, padahal kan saya datang. Nah, belum lagi nilai dari ini semua, apa dia mau kasih nilai besar?! Apa dia peduli dengan orang seperti saya yang sakit dan masih datang? Dia tak akan tahu, tak akan pernah tau dan tak peduli..." Protes saya.
Tapi sesaat kemudian, saya ingat sesuatu. Dosen itu tak pernah tahu, tapi Tuhan tahu. Tuhan tak tidur, Tuhan melihat manusia yang berusaha dan Tuhan lah yang memberi nilai, dosen hanya menuliskan, dan bukankah kita yang memantaskan diri kita untuk semua nilai yang kita dapatkan? Saya terima pemikiran itu. Saya kerjakan semuanya semampu saya dan teman-teman kelompok saya, dan kemarin kelompok saya dianggap sebagai kelompok yang mengerjakan cukup baik di kelas.
Entah pujian atau apa, yang jelas ada sebuah perasaan senang dalam diri saya. Tak sia-sia kami lelah dan capek dalam mengerjakan tugas itu dan ada hasilnya, a compliment from the teacher that i'm really scared of.
Ya, Tuhan tak pernah tidur, perjuangkan lah yang memang patut kita perjuangkan. Tak ada kesia-siaan bila telah berusaha, Tak akan ada hasil bila tak berbuat. Just believe and do it right!