26 Maret 2011

Terkadang banyak sekal yang harus kita kerjakan, dan terkadang sama sekali tidak ada yang perlu kita kerjakan.

Hidup memang tidak bisa ditebak, tidak bisa dipikir dengan nalar karena pada dasarnya kehidupan ini bukan milik kita sepenuhnya. saya tidak pernah meminta dilahirkan, begitu juga dengan miliaran manusia lainnya, tapi toh akhirnya kita semua ada disini, hidup diatas planet bernama Bumi dengan rutinitas kita semua dan tanpa kita sadari kta semua jadi sibuk 
Terkadang banyak sekal yang harus kita kerjakan, dan terkadang sama sekali tidak ada yang perlu kita kerjakan. tapi pertanyaan saya selalu sama.. untuk apa ini semua? 

20 Maret 2011

Mari Menghitung Waktu

Huaaah.. liburan semester sekarang terasa sangat sibuk. Samapi-sampai kehabisan energi dan kehabisan waktu buat diri sendiri. serasa 24 jam enggak cukup buat hidup. Dan ternyata setelah saya hitung-hitung dalam kehidupan saya emang 24 jam seminggu emang enggak cukup! Mau tahu rinciannya?
Jadi gini, setiap minggu ada 7 hari, setiap hari ada 24 jam. 24 dikali 7 = 168 jam seminggu. 168 jam seminggu, ini modal waktu smeinggu yang setiap manusia punya. Nah, semester saat ini saya ngambil 20 sks, wajarnya setiap sks itu adalah 3 jam. 1 jam belajar mandiri, 1 jam belajar di kelas dan 1 jam responsi. Jadi, 20 dikali 3 = 60 jam. Nah biar tubuh kita sehat, kita harus tidur 8 jam sehari, 8 dikali 7 = 56 jam. Saya juga sekarang punya proyekan buat ngeband, ada 2 band yang sekarang lagi saya kerjain. Minimal tiap band itu latihan seminggu sekali satu jam dan brifieng sebelum latihan 2 jam, belum misalnya sharing masalah dulu ya kira-kira 2 jam lah... Jadi hitungannya 1 +1 +1* 2 band  = 6 jam. Mari kita jumlahkan semua jam tadi.
  • Seminggu : 7x 24 = 168 jam
  • Kuliah : 20 sks @ 3 jam = 60 jam
  • Tidur : 8 x 7 jam = 56 jam
  • Band = 2 x (1+1+1) = 6 jam
  • Sisa waktu : 168 jam – (60+56 + 6) = 168 jam – 124 jam = 44 jam.
Nah itu masih banyak waktu, 44 jam.. masa enggak cukup?Eh tenang dulu, itu dalam hitungan jam. Coba kita lihat dalam bentuk yang lebih kecil, dalam hitungan menit. 44 jam x 60 menit = 2640 menit, sisa waktu saya seminggu. Waktu sekian menit tersebut saya itung lagi ternyata emang enggak cukup juga. Ya, sisa waktu itu saya pakai kira-kira buat ini semua :
  • makan 3 kali sehari, dikali seminggu : 3 x 30 menit x 7 = 630 menit
  • mandi 20 menit x 7 hari = 140 menit
  • Saya harus ngabisin waktu dijalan, ya buat ke kampus atau enggak ya...pulang dari kampus : 30 menit x 2 x 7 hari = 420 menit.
  • Saya harus maen, baca buku, dengerin musik, dengerin radio, nonton tipi, ngenet dll untuk sedikit hiburan : 3 jam x 60 menit x 7 hari = 1260 menit.
  • Sisa waktu : 2640 menit – (630 + 140 + 420 + 1260 ) = 190 menit.
190 menit dibagi sama 7 hari... jadi saya ada waktu kosong .... kira-kira27,142857142857142857142857142857 menit per hari dan itu buat dipake ngehabisin 3 batang rokok juga udah abis.. Hah. Ternyata emang engga cukup waktunya.. gimana mau punya pacar? waktu buat diri sendiri aja enggak cukup.. Arrgghhh!!!!

17 Maret 2011

Sejarah Uang


Uang saat ini dalam kehidupan sosial di belahan dunia manapun mempunyai 2 fungsi utama yaitu sebagai alat pertukaran dan pembayaran yang sah. Tetapi sebenarnya untuk mempunyai fungsi tersebut, uang mempunyai sejarah panjang yang rumit sehingga bisa menjadi sebuah alat yang sah dan diakui seluruh dunia.
Uang Komoditas
Bentuk awal uang sebenarnya hanya berupa komoditas-komoditas tertentu yang bisa ditukarkan dalam lingkup sosial tertentu. Di seluruh dunia, komoditas pernah dijadikan uang mulai dari garam hingga tembakau, dari kayu gelondongan hingga ikan asin, dan dari beras hingga kain pernah dijadikan sebagai uang dalam sejarah.
Bangsa Norwegia menggunakan mentega sebagai uang. Di Cina, Afrika Utara dan Menditerania, orang memakai garam sebagai uang komoditas. Orang Yunani pada jaman Homerus menggunakan lembu sebagai uang komoditas mereka. Bahkan di beberapa tempat, budak dijadikan sebagai komoditas yang dijadikan sebagai ukuran kekayaan seseorang.
Bentuk penggunaan uang komoditas ini sendiri masih mirip seperti sebuah sistem barter dan uang komoditas tersebut digunakan sebagai sebuah alat yang menggenapkan pembayaran. Sebagai contohnya bangsa Aztec yang menggunakan biji kakao sebagai uang komoditas mereka.
Bila seorang Aztec ingin menukarkan seekor iguana dengan kayu bakar atau menukar sekeranjang jagung dengan seikat lombok, bila dirasa pertukaran masih belum sempurna, maka bangsa Aztec akan menggunakan biji kakao tersebut hingga pertukaran dirasa adil dan seimbang. Tetapi tidak selalu uang komoditas dijadikan sebagai alat untuk menggenapkan perturkaran, bisa juga menggunakan komoditas lain tetapi umumnya yang dijadikan uang komoditas adalah komoditas yang dianggap berharga dan sangat diinginkan oleh masyarakat itu sendiri.    
Uang komoditas mempunyai banyak keunggulan karena bisa mejadi barang konsumsi atau pun alat tukar, tetapi karena konteks kultural di tiap tempat berbeda-beda kadang uang kmoditas menjadi sangat tidak berharga di tempat lain. Contohnya adalah penggunaan kulit kerang sebagai uang komoditas, di daerah tertentu mungkin kulit kerang sangat berharga, tapi kulit kerang menjadi sangat tidak berharga di daerah pantai karena daerah tersebut tentunya memiliki banyak kulit kerang.
Selain itu, uang komoditas mudah mengalami penurunan nilai karena rusak atau mungkin sudah membusuk apabila uang komoditas itu berupa bahan pangan yang harus selalu dikonsumsi dengan cepat.
Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang ada di dunia ini, penggunaan uang komoditas semakin dirasa menyulitkan dalam melakukan perdagangan dengan bangsa lain, sehingga membuat manusia terus mencari bentuk pertukaranan yang bisa diterima di semua tempat.
Logam menjadi sebuah pilihan sebagai pengganti uang komoditas. Penggunaan uang logam lebih efisien karena logam bisa dibentuk sedemkian rupa menurut dengan selera dari pemilik logam tersebut. Tidak seperti uang komoditas yang bisa sangat merepotkan untuk dibawa karena kemungkinan ukuran, berat dan jenis yang bermacam-macam.
Emas menjadi sebuah logam yang paling sering dijadikan sebagai patokan dari uang logam, karena hampir di seluruh belahan dunia menyukai emas karena nilainya tidak pernah turun dan bisa dipastikan selalu murni dibandingkan dengan jenis logam lainnya. Selain emas, perak juga menjadi logam yang banyak dijadikan sebagai pengganti uang komoditas.
Pada penghujung tahun ketiga SM, bangsa Mesopotamia mulia menggunakan batangan logam mulia untuk ditukarkan dengan barang. Tablet lempung Mesopotamia bertuliskan huruf paku dari tahun 2500 SM menyebutkan penggunaan perak sebagai sebuah bentuk pembayaran.
Uang Koin
Uang koin pertama kali dibuat oleh kerajaan Lydia, sebuah kerajaan kecil bagian dari Yunani kuno. Uang koin merupakan sebuah terobosan baru dalam pembuatan uang saat itu.
Raja-raja Lydia saat itu menyadari akan perlunya batangan-batangan kecil dan mudah diangkut yang nilainya tdaik lebih dari beberapa hari kerja atau sebagian kecil panenan petani. Dengan menciptakan batangan-batangan kecil dalam ukuran dan berat yang dibakukan dan dnegan membubuhkan sebuah emblem pada batangan yang mengukuhkan nilainya, dengan cara seperti ini perdangan menjadi sangat pesat pada waktu itu di kerajaan Lydia sehingga menimbulkan kekayaan yang melimpah bagi kerajaan Lydia.
Koin awal yang dibuat berbahan dasar dari elektrum campuran emas dan perak yang terjadi secara alami. Untuk menjamin keotentikan dari koin-koin tersebut, raja memerintahkan untuk mengecap setiap koin dengan emblem kepal singa. Selain itu, pengecapan juga berfungsi untuk meratakan bulatan pada tiap koin tersebut dan juga menjadikan berat koin itu sama sehingga tidak perlu lagi harus menggunakan timbangan untuk menentukan tingkat kemurnian dari koin tersebut.
Pada masa pemerintahan Croesus (560-564 SM), Croesus menciptakan koin baru bukan berbahan dasar dari elektrum, tetapi dari emas dan perak. Perubahan koin tersebut semakin meningkatkan kekayaan dari kerajaan Lydia hingga pada akhirnya kerajaan Lydia hancur karena berusaha menyerang kerajaan Persia. Walaupun kerajaan Lydia hancur, tetapi sistem uang koin yang digunakan Lydia rupanya sudah menyebar ke seluruh Mediterania.    
Perkembangan uang koin selanjutanya terus berlangsung hingga masa kerajaan Roma yang mengeluarkan uang koin perak mereka sendiri yang diberi nama denarius. Setelah itu, kerajaan-kerajaan lain juga mulai mengadopsi sistem uang koin tersebut.
Sejak penemuan benua Amerika, penggunaan uang koin semakin meluas karena ditemukannya daerah-daeerah penambangan emas dan perak yang baru di Amerika. Kerajaan Spanyol dan Portugis menjadi kerajaan yang sangat kaya karena penemuan emas di sejumlah negara jajahannya tersebut dan mulai mencetak lebih banyak koin untuk kemakmuran negaranya.
Tetapi karena terus-menerus melakukan eksploitasi emas dna perak, pasokan emas dan perak semakin berkurang dan karena ketamakan dari raja-raja Spanyol dan Portugis tersebut, nilai uang koin semakin berkurang karena tingkat kemurniannya yang terus berkurang setiap saat.
Uang kertas
Jumlah pasokan emas dan perak yang semkain menurun serta terjadinya inflasi karena tingkat kemurnian uang koin yang semakin rendah, memaksa manusia mulai mencari alternatif lain setelah uang koin dan uang kertas mulai menjadi alternatif pilihan pengganti uang koin.
Uang kertas diperkirakan pertama kali digunakan di Cina pada masa dinasti T’ang. Para birokrat Cina membuat uang kertas dari kertas kulit pohon Murbei. Setelah dicap dan disegel oleh kaisar, maka kertas-kertas itu menyandang nilai penuh emas atau perak.  Uang kertas Cina itu mempunyai ukuran sama dengan serbet. Selembar uang senilai seribu koin, berukuran sembilan kali tiga belas inci. Tetapi sistem uang kertas di Cina pada saat rupanya tidak berkembang secara langsung mempengaruhi dunia dan hanya berkutat di daerah Cina saja.
Pada 17, bangsa Eropa mulai menerbitkan surat berharga. Surat berharga ini pertama kali dimaksudkan sebagai bukti jaminan untuk uang-uang koin yang masyarakat simpan di bank atau sebagai bukti surat hutang, sehingga nantinya masyarakat bisa menukarkan surat berharga yang mereka miliki dengan uang koin yang ada di bank. Tetapi banyak terjadi masalah pada saat awal penggunaan surat berharga ini, karena terlalu banyaknya surat berharga yang beredar daripada uang koin yang beredar sehingga surat-surat berharga yang dimiliki oleh masyarakat nilanya menjadi tidak lebih dari hanya sekedar kertas biasa. Ide dan teknologi dari uang kertas di Eropa sudah mulai terbentuk tetapi aplikasi yang diharapkan masih belum sesuai pada saat itu.
Perkembangan selanjutnya terjadi lebih baik di daratan Amerika Utara. Benjamin Fraklin menjadi orang paling berjasa dalam penerbitan uang kertas di Amerika Utara.
Benjamin Franklin memluai ide untuk mencetuskan uang kertas di Amerika yang waktu itu masih merupakan negara koloni dari Inggris. Pada tahun 1729, Benjamin Franklin menerbitkan A Modest Enquiry into the Nature and Necessity of a Paper Currency, dengan terbitnya tulisan ini, berbagai koloni berusaha mengikuti rencana Franklin dengan menerbitkan uang kertas dan Franklin sendiri dikontrak untuk mencetak uang oleh Pensylvania.
  Sebenarnya pembuatan nilai uang kertas menjadi sebuah permasalahan tersendiri, karena pada dasarnya uang kertas hanya sebuah selembar kertas yang diberi tanda resmi oleh pemerintah yang mengeluarkan uang kertas tersebut.
Pada awal perkembangan uang kertas, setiap negara pembuat uang kertas akan menyiapkan sejumlah emas yang bernilai dengan jumlah uang kertas yang mereka keluarkan. Sebagai contohnya, bila Amerika akan mencetak uang senilai $450 juta, maka pemerintah Amerika harus menyiapkan cadangan emas senilai $450 juta juga sebagai pengganti atau nilai dari uang yang mereka keluarkan.
Tetapi kebijakan itu sudah mulai tidak diberlakukan sejak berakhirnya Perang Dunia II, dengan adanya persetujuan Bretton Wood yang menjadikan dolar Amerika sebagai patokan sistem nilai tukar mata uang seluruh dunia. Pada saat itu, nilai 35 dolar Amerika sama dengan nilai satu ons emas.
Kebijakan ini berjalan sebagaimana mestinya, hingga pemerintahan Presiden Nixon yang mencabut pematokan nilai dolar terhadap satu komoditas apapun, artinya sejak itulah mata uang Amerika yang dijadikan sebagai patokan dasar mata uang seluruh dunia menggunakan sistem mengambang relatif terhadap mata uang negara lain yang kita kenal hingga sekarang ini.
Uang saat ini
Uang telah mengalami berbagai perubahan kebijakan, perubahan bentuk dan nilai. Hingga saat ini uang masih mengalami berbagai perubahan. Perkembangan teknologi yang baru akan menimbulkan berbagai macam kebijakan dan jenis uang yang baru. Munculnya teknologi internet telah semakin mengkonversi uang yang kita kenal sekarang.
Saat ini, sudah mulai berbagai uang eletronik yang beredar dalam dunia maya. Walaupun masih belum terlalu berpengaruh dalam kehidupan nyata, uang elektronik kemungkinan nantinya akan semakin berkembang dan bahkan mungkin bisa menggantikan peran dolar Amerika yang ada saat ini. Kita hanya akan bisa melihat dan menunggu bagaimana kebijakan lain yang akan diambil pemerintah dunia dalam menetukan kebijakan keuangan nantinya. 

24 Februari 2011

My Favorite Korea Variety Show

Kita lupakan sejenak bicara yang serius dan absurd tentang kehidupan saya. Biar saya sedikit berbagi soal salah satu hal yang saya suka selain buku dan gitar : acara variety Korea! Ya, mungkin rasanya aneh kok saya bisa suka hal yang begitu...Korea. saya juga enggak tahu kenapa, tapi penyebab tidka penting karena bukan itu yang ingin saya bahas. saya ingin membahas tentang acara variety Korea yang saya sukai.
Mungkin memang sudah menjadi budaya televisi di Korea atau Jepang. Dari Jepang sendiri munghkin ada beberapa acara yang pernah tampil di tv nasional semacam Takeshi Castle, Masquarade, TV Champion dan yang yang saya lihat di salah satu tv lokal yaitu 26 Hours a Day. Acaranya memang cukup menarik, tapi saya hanya selintas saja melihatnya, tidak terlalu ngefans atau bagaimana.
Tapi saat saya menonton acara variety korea, ada perasaan berbeda. saya benar-benar terhibur dan tertawa dengan semua kejadian di acara tersebut. Salah satu acara favorit saya adalah Family Outing. Family Outing mempunyai konsep acara dimana para selebriti  mempunyai tugas untuk menjaga rumah dan menjalankan tugas dari sang pemilik rumah yang sedang berlibur (outing), nantinya selain menjaga rumah mereka para selebriti tersebut harus melakukan berbagi games yang dipandu oleh seorang MC, Yoo Jae Suk. Orang ini yang membuat saya kesengsem sama variety korea, bodornya engga ada dua buat saya. He is really a funny guy~!
Tapi sayang, karena ratingnya terus turun dan Yoo Jae Suk yang ingin lebih berkonsentrasi pada keluarga, Family Outing harus selesai di episode 84 dan satu episode tambahan untuk acara penghargaan. Setelah Family Outing selesai, sebenarnya acaranya dilanjutkan dengan Family Outing 2, tapi sayangnya acara ini kurang berhasil karena dianggap terlalu menonjolkan para idol yang menjadi pengisi acaranya dan kurang terciptanya suasana kekeluargaan yang biasa dilihat di Family Outing pertama dan berakhir pada episode 15.
Karena saya kadung nge fans sama Yoo Jae Suk, saya akhirnya mencari acara-acara lain yang ada dianya, dan acara variety selanjutnya yang saya tonton adalah acara Infinity Challenge (Muhan Doejon). Format acara ini  adalah para MC dari acara ini harus melakukan berbagai tantangan yang diberikan oleh produser dari acara ini. Inti tujuan dari acara ini adalah : giving big laughter to every viewer--intinya harus lucu-selucu-lucunya bagi pemirsa. Hal ini wajar, karena para MC di acara ini umumnya adalah para gagmen (sebutan bagi komedian/pelawak di Korea). Pengisi tetap acara ini diantaranya Yoo Jae Suk sebagai leader, Park Myung Soo sebagai orang nomor 1.5 di acara ini, Jung Jun Ha, Hyung Don, Noh Hong Cul, dam Haha. Untuk Haha sempat vakum dari tahun 2008 hingga 2010 karena harus menjalani wajib militer dan digantikam oleh Jun Jin  dari Shinwa, sampai akhirnya Jun Jin juga harus vakum karena harus menjalani wajib militer tahun 2009, kemudian acara ini juga merekut anggota baru Gil dari Lessang, dan line-up terakhir hingga tahun 2011 adalah Yoo Jae Suk, Park Myung Soo, Jung Jun Ha, Jung Hyung Don, Noh Hong Cul, HaHa, dan Gils  
Acara ini sudah running sejak tahun 2006 hingga sekarang (2011), masih menjadi salah satu acara variety dengan rating terbaik dan mempunyai banyak fans di seluruh dunia. Acara ini buat saya selain menghibur juga sangat menginspirasi saya, karena selain lucu acara ini uga menekankan keterikatan emosional kepada para pemirsanya dengan membuat program/tantangan jangka panjang yang biasanya berupa produk (contohnya Project Calendar atau Rice Harvest) atau suatu event yang hasil kegiatannya akan diberikan dalam bentuk beasiswa kepada mahasiswa universitas. Kegiatan sosial yang menguntungkan dan patut ditiru di negara ini menurut saya, karena image dari acara ini akan menjadi baik sekaligus bermanfaat bagi masyarakat. Ya, asal jangan plagiat saja.
Acara vairety lainnya yang dipandu oleh MC Yoo Jae Suk adalah Come to Play dan Happy Together. Kedua acara ini adalah acara talk show yang juga menurut saya sangat lucu dan menghibur. Di kedua acara ini, para selebriti Korea membagi perasaan dan pemikiran mereka tentang kehidupan yang mereka alami. Saya kurang mendapat info sejarah dari kedua acara itu tetapi kedua acara tersebut berisi obrolan ringan yang cukup menghibur bagi saya.
Next, acara favorit saya adalah Running Man. Masih ingat tentang Family Outing 2 yang harus di-cut pada episode 15 tadi? Nah, ini adalah acara pengganti dari Family Outing 2 tadi. Acara ini dipandu juga oleh Yoo Jae Suk (famous banget ini orang ya? Iyalah, julukannya aja MC Nation). Format acara ini adalah...ya, intinya sih lari. Saya sudah menonton hingga episode 25, dengan format yang berbeda tiap episodenya tetapi pada segmen terakhir selalu diwajibkan dilakukan acara kejar-mengejar dari pengisi acara ini untuk menyelesaikan misi mereka, bila gagal mereka harus melakukan hukuman di akhir acara (biasanya yg cowok pake hotpants, yang cewek pake kumis atau jenggot palsu).
Last but not least, We Got Married. We Got Married adalah acara variety dimana selebriti Korea pura-pura menjadi suami-istri......fictional marriage. Khusus buat acara ini, pasangan yang saya suka adalah Goguma Couple atau YongSeo Couple. YongSeo Couple adalah pasangan  Yong Hwa dari CN Blue dan SeoHyun dari SNSD. They are so cute together and they're look great wth each other. They really should have official relationship outside the show! :D
Well, saya kira segitu dulu lah ya sharing soal variety Koreanya. Kapan-kapan saya sambung lagi kalau ada yang nyangkut di hati lagi. Hehehe.. Bbyoung~!

11 Februari 2011

Schizoprenia and Movie

Apa itu Schizoprenia? Menurut wikipedia Schizoprenia adalah  a mental disorder characterized by a disintegration of thought processes and of emotional responsiveness. It most commonly manifests as auditory hallucinations, paranoid or bizarre delusions, or disorganized speech and thinking, and it is accompanied by significant social or occupational dysfunction. (Sebuah gangguan mental yang dikarateristikan dengan disintegrasi pada proses berpikir dan respon emosi. Biasanya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi, katakutan yang tak berlasan atau ilusi yang sangat hebat atau disorganisasi cara berbicara dan berpikir, dana biasanya berbarengan dengan disfunsional funsi sosial dan sikap). Well, kira-kira begitulah artinya.
Saya pertama kali tahu istilah ini dari sebuah film Jim Carrey yang berjudul "Me, Myself and Irene", yang menceritakan tentang seorang polisi lokal bernama Charlie, yang diperankan oleh Jim Carrey, yang memendam rasa frustasinya terhadap kehidupannya sehingga menghasilkan seorang pribadi baru dalam diri Charlie yang bernama Hank. Saya cuman, "Oh.." saja melihat film ini, tidak terlalu tertarik, tetapi film selanjutnya yang membuat saya aware dengan Schizoprenia adalah "Fight Club". Saat saya masih di SD, melihat trailer film ini, saya pikir film ini hanya "another cool guy, beating bad-ugly-looking-face guy" tapi saya baru sempat menontonya pada kelas 3 SMA, and it is totally out my imagination. 
Film ini menceritakan tentang seorang Narator yang memiliki kehidupan yang "sempurna" hingga pada suatu hari dia bertemu dengan seorang Tyler Durden dan membuat sebuah klub, Fight Club dan sejak itu hidupnya berubah. Tyler yang karismatik, membuat sebuah gerakan bawah tanah untuk menentang segala bentuk kemapanan hidup dan konsumerisme yang ada dengan menggunakan anggota dari Fight Club tersebut. Narator tersebut tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Tyler, hingga akhirnya dia sadar bahwa Tyler adalah dia sendiri, dan sejak saat itu saya benar-benar terkesima dengan Tyler. 
Saat itu saya mulai berpikir betapa menyenangkannya bisa mempunyai alter-ego atau kepribadian lain yang tidak saya miliki dalam diri saya, betapa keren-nya bila saya bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa saya lakukan bila saya hanya menjadi diri saya sendiri. Yes, i'd like to one schizoprenic please! Saya pikir Schizoprenia hanya  berbicara tentang kepribadian ganda saja, tapi ternyata tidak. Saya barubtahu setelah saya nonton film lain tentang Schizoprenia yaitu "A Beautiful Mind". Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, yang menceritakan tentang John Nash , yang merupakan ilmuwan matematika dari Amerika yang menderita Shcizoprenia. Dia menjadi subjek berita ini berkat prestasinya meraih Nobel dalam bidang ekonomi tahun 1994, untuk teorinya yang dia sebut "Nash Equlibrium" (dan ya, saya sedikit mempelajari teori itu dalam salah satu bab di ekomoni manajerial). Dalam cerita tersebut John Nash mengalami schizoprenia dalam bentuk halusinasi akut, dia menjadi seorang mata-mata, mempunyai teman sekamar khalayan dan itu benar-benar merusak karir dan hidupnya.
Salah satu film tentang schizoprenia lainnya adalah "The Soloist". Film ini diperankan oleh Robert Downey, Jr. dan Jamie Foxx dan diangkat berdasakan kisah nyata dari seorang kolumnis bernama Steve Lopez menceritakan tentang seorang musisi berbakat bernama Nathaniel Ayers yang menjadi gelandangan dan hidup di jalan akibat dari schizoprenia yang dimiliki oleh Ayers. Ayers dalam film ini digambarkan memiliki schizoprenia dalam bentuk halusinasi dan paranoia akut, yang bisa membuat dia menjadi sangat kasar dan berbahaya akibat dari ketakutannya tersebut. What i can tell you about this movie: it doesn't work on the market.
Ada satu ceirta lagi tentang schizoprenia yang saya lihat di tv, dalam acara "Oprah Winfrey Show". Dalam acara tersbut, dicertakan tentang seorang anak berumur 7 tahun yang mengidap schizoprenia sejak berumur 3 tahun. Bentuk awal dari schizoprenia yang dieritanya berupa ilusi teman imajiner berupa hewan peliharaan, awalnya semua baik-baik saja hingga tingkat yang lebih parah timbul, binatang-binatang tersebut mulai memerintahkan untuk melakukan hal-hal yang berbahay untuk anak seumurnya dan membuat anak tersebut menjadi sangat berbahay dan kasar bagi orang-orang terdekatnya, sehingga orang tuanya harus menyiapkan sebuah rumah khusus bagi anak tersebut dan bergantian menjaga anak tersebut. What a life, dude! 
Dan ya, ide saya untuk memiliki shcizoprenia langsung saya hapus seketika, saya tidak ingin menjadi berbahaya bagi orang lain di sekitar saya dan lagipula tidak ada salahnya menjadi membosankan kan? 
Di Indonesia, sering timbul kasus pembunuhan atau bunuh diri dimana pelakunya mempunyai alasan karena "ada suara-suara yang memerintahkannya", dulu saya pikir itu tidak logis. "Memangnya ada suara dari mana? Dari setan?!" dan ya, semua orang di sini pasti berpikir seperti itu, tapi bagaimana bila memang pelaku tersebut mempunyai schizoprenia? 
Well, someone tell me i have to go now, it's a friend. a shy friend that have great idea. makin' nuclear or something. 
"Hey, do you want to write something?"
"Hey, i told you never mention me?!! Get that, prick?!! Just tell them!"
"Tell what?"
"This conversation,"
"This conversation.."
"Is over.."
"Is Over."



26 Januari 2011

sedikit ngomongin negara (2)

Ok, lanjutan dari postingan sebelumnya, terakhir saya ngomongin soal politisasi. Nah, kenapa politisasi bisa terus terjadi, kenapa sedikit-sedikit dibuat menjadi isu politik? Jawabannya karena masyarakat kita memang masih mudah untuk diarahkan seperti itu. Media tidak membantu banyak dalam upaya mencerahkan masyarakat, media bagi saya saat ini sudah merupakan sebuah komoditas yang bisa ditunggangi oleh politik (atau minimal sama yang punyanya demi kepentingan politiknya.) Tapi ini tidak terjadi di negara ini saja, di negaral lain juga sama saja saya rasa. Media lebih menjadi media propaganda dan digunakan sebagai pengalih isu semata untuk menutup satu isu degan isu lainnya. Media sudah beralihfungsinya dari yang seharusnya menyebarkan informasi yang akurat dan jujur kepada publik, menjadi sebuah badan yang mengejar iklan dan popularitas di masyarakat.

Media jadi kehilangan independensinya, dan menjadi sebuah laat bagi golongan tertentu untuk mencapai tujuan pribadinya, ini bisa menjadi sangat bahaya, karena jangkauan media yang luas bisa mempngaruhi orang-orang yang tidak mengerti dan kurang terdidik untuk ikut serta mendukung tujuan tersebut.
Pendidikan
Salah satu hal mendasar menurut saya harus diperbaiki adalah pendidikan. Lah, emang lo pikir negara ini orang pinter ga ada?  Weits, bukan gitu maksudnya. Maksud dari perbaikan pendidikan ini adalah perbaikan dalam tujuan pendidikan itu sendiri. Selama ini tujuan pendidikan di negara ini menurut saya tidak jelas, contohnya nilai standar ujian yang terus-terusan naik. Naik angkanya kelulusan tiap tahun naik, tapi apa yang mau dikejar dari kenaikan itu?
Apa pemerintah pernah menilai tingkat penyerapan pendidikan di Indonesia ini secara kualitatif dan kuantitatif? Saya rasa tidak. Itu yang saya sesalkan. Negara ini terlalu banyak membangun proyek-proyek Mercusuar tanpa arti. Dana dihabiskan tanpa tujuan yang jelas, bila satu program gagal, buat program baru yang pasti gagal juga, pakai uang rakyat lagi.
Setiap tahun banyak sarjana yang lulus, tapi apa hasilnya dari angka kelulusan yang tinggi itu? Hanya menambah angka pengangguran saja. Itu sih salah mahasiswanya!  Hei, mahasiswa adalah produk dari sebuah sistem, bila mahasiswanya tidak sesuai harapan ada yang salah dengan sistemnya. Bila mahasiswanya dan pelajarnya jauh dari standar dan tidak bisa diharapkan untuk membangun masyarakat yang lebih baik, ya perbaiki dulu sistem pendidikan yang ada, agar saat mereka terjun ke masyarakat mereka tahu mereka harus berbuat apa, LEBIH DARI SEKEDAR HANYA UNTUK MENJADI PEGAWAI YANG DIGAJI TINGGI TANPA MENGGUNAKAN ILMU MEREKA BAGI MASYARAKAT.
Memang tidak salah kita lulus dengan tujuan mencari kerja dan menghabiskan hidup kita untuk mengumpulkan uang dan bekerja, toh semua ijasah itu tidak gratis kita dapat. Semua ada harga yang harus dibayar. Tapi yang jadi masalah adalah bila orang-orang terbaik kita hanya hidup demi uang. Stigma kesuksesan adalah kekayaan telah mendarah daging di negara ini.
Saya ralat semua tulisan diatas. 
Sebenarnya saya pengen bilang kalau penyebab utamanya adalah rendahnya pendidikan di masyakrakat dan kurangnya visi di pemerintah dalam membentuk masyarakat yang mandiri secara fisik dan mental pikiran (bebas dari doktrin-doktrin umum yang ada dan bisa berpikir secara rasional dan empiris dalam melihat segala macam persoalan yang ada) tapi setelah saya pikir-pikir, memang ekonomi tidak ada pengaruhnya? Ya, ada. Memang psikologis tidak ada pengaruhnya? Ya, ada. Memang hanya segitu saja penyebabnya? Setelah saya pikir-pikir, lho kok jadi banyak dan untaian masalahnya benar-benar seperi bola kusut di kaki ayam, tidak jelas mana pangkal mana ujungnya. Jadi apa penyebabnya? Sekarang saya cuma bisa jawab : entahlah. Saya pun bingung, mana yang awal mana yang akhir. 
Ada orang terdidik yang mungkin masih bisa dihasut secara politik, atau ada orang yang miskin tapi bisa kritis, tapi karena miskinnya tidak punya kesempatan beraspirasi dan sibuk berkutat dengan nasib supaya bisa makan saja. Jadi ada apa? Apa memang ada Invisible Hand sesuai teori Adam Smith yang mengatur ini semua? Atau sudah suratan takdir? Kenapa jadi seperti judul sinetron begini? 
Tapi inti dari semua kesalahan semua ini bagi saya adalah memang tidak adanya visi yang jelas dari pemerintah sendiri untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Memang anggaran sudah 20% untuk pendidikan, tetapi tingkat penyerapannya belum benar terealisasikan. Masih banyak tukang kutip di Republik ini dan mereka tidak malu menjadi tukang ketip dan memberikan uang hasil ketip itu untuk keluarga mereka.
Mungkin, memang yang paling tepat untuk saat ini adalah seperti kata-kata orang yang pernah saya dengar dengan cara memperbaiki diri kita dulu, kemudian keluarga, kemudian lingkungan yang lebih besar lagi dan seterusnya, karena bila kita memperbaiki dunia luar tanpa memperbaiki diri kita sendiri, tak ada gunanya. 


14 Januari 2011

sedikit ngomongin negara (1)

Pada suatu malam sebelum tahun baru, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan sebuah acara dialog tentang harapan ekonomi Indonesia di tahun 2011. Pembicara dari acara itu ada yang dari kalangan pengusaha, pejabat, praktisi dan pengamat ekonomi. dari diskusi tersbeut diambil kesimpulan bahwa mereka agak pesimis dengan eadaa ekonomi Indonesia di tahun 2011 karena mereka cukup yakin perubahan yang signifikan tidak akan terjadi dengan cepat di negara ini, contohnya dalam bidang infrastruktur dan listrik.
Pengushah membuatuhkan banyak energi listrik untuk bisa melakukan produksi barangnya di negara ini, tetapi saat ini Indonesia masih mengalami defisit listrik serta tarif yang tidak begitu jelas dari pihak penyedia yaitu PLN. Sedangkan dari segi infrastruktur, masih banyak daerah yang belum terkembangkan dengan baik, sehingga untuk kegiatan penyaluran transportasi produk mereka jadi terganggu. Selain itu keadaan alam di daerah-daerah tertentu sudah sangat rusak sehingga mengakibatkan sering terjadinya bencana alam seperti longsor dan banjir yang juga sangat menghambat kegiatan bisnis di daerah tersebut.
Nah, kemudian, ada salah seorang dari mereka mengatakan bahwa ini semua salah pemerintah yang terlalau sibuk mengurusi hal politik di pemerintahan. Terlalu banyak politisasi dalam pemerintah. Setiap kejadian selalu dikaitkan dengan politik, bahkan untuk hal yang penting seperti perencanaan ekonomi Indonesia. You are so damn, right!! Ternyata memang tidak salah mengundang tv swasta itu dalam mengundang pembicara.


POLITISASI
Ya, Politisasi, mengaitkan semuanya dengan kegiatan politik agar mendapatkan pencitraaan yang luas dari masyarakat, sehingga bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat. Is it wrong? Oh, tentu tidak salah, yang menjadi salah adalah saat semua hal dikaitkan dengan pencitraan tersebut. Kenapa negara ini setiap tahun terasa semakin paradoks? Tiap hari yang korupsi bukannya semakin sedikit malah semakin banyak yang ketahun, tapi yang tidak ketahuan lebih banyak, dan semua orang tahu itu tanpa perlu update setiap hari. Kenapa? Ya, itu tadi, politisasi. Ada kepentingan politik dibalik ini semua.
Kalau kata saya, negara ini kebanyakan partai politik. Sudah banyak enggak jelas juga tujuan dari partai politik tersebut. Yang satu meninju yang ini, yang ini menendang yang itu, yang mengganyang yang ini. Mereka sibuk menghajar satu sama lain demi kepentingan partai politiknya, sehingga lupa suara siapa yang harus mereka suarakan, suara rakyat!!!! Orang-orang yang telah memilih mereka, yang sudah mempercayakan amanah kepada mereka.  Menyia-nyiakan amanah adalah sebuah dosa. Apa mereka engga takut kalau mereka berdosa? (Entah lah, mungkin mereka yakin sudah banayk amal dan bakal masuk surga. Well, who doesnt have a sin anyway? Probably, they said.)
Nah ini, yang jadi masalah juga sebenarnya bagi aspek kehidupan lainnya, untuk menentukanm tarif dasar listrik naik atau tidak, mereka harus rapat dulu. Untuk mengeluarkan dana pembangunan fasilitas umum, mereka harus rapat dulu. Untuk apa-apa harus rapat dulu, ujung-ujungnya berantem. Kalo engga berantem, yang satu marah, keluar ruangan, atau tiduran di kursinya, (atau bikin film?)  Ah, lama~! Kalau begini terus negara ini keburu ketinggalan semuanya.
Politisasi ini harus dihilangkan dan mengembalikan semuanya kepada publik, kepada masyarakat yang berhak, bukan kepentingan mereka dan geng nya. Harusnya mereka membuat semua hal itu dengan melihat lebih jelas siapa yang mereka wakili. Kemana hati dan pikiran mereka saat membuat kebijakan-kebijakan itu (yang menurut saya kurang bijak)?
Bagaimana benar-benar mau menghapus korupsi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membuat negara ini menjadi negara yang baik dan benar bagi rakyatnya kalau mereka tidak memulai memperbaiki mereka dan tetap memprioritaskan apa yang seharusnya mereka dahulukan?
---BRB, mata agak jereng ini